Prioritas Mata Kuliah Saint di Kampus Besar Indonesia

Wahai pak dosen , sains memang bukan yang paling canggih, tapi sains bisa dikatakan memiliki kehebatan karena dua hal: Pertama, sains itu terbuka untuk belajar dari mana pun. Makanya, seperti sering saya bilang, kalau seseorang itu berjiwa saintis, dia bakal terbuka untuk belajar dari mana pun selama hal itu berguna. Kedua, sains memiliki suatu mekanisme dan secara sistematik mengoreksi atau memperbaiki keilmuannya terus menerus. Seperti yang pak dosen pernah bilang tempo hari bahwa di kalangan saintis itu tidak ada barisan pembela Einstein atau barisan pembela Hawking. Mereka malah ingin menumbangkan teori saintis besar lainnya. Iya juga sih, seseorang yang berjiwa saintis tidak akan merasa keberatan kalau harus merevisi pemahamannya terus menerus,

Prioritas Mata Kuliah Saint di Kampus Besar Indonesia

Tapi, dengan begitu, layakkah sains tetap diprioritaskan? Mengapa?

Yah, mungkin karena kebetulan sejarah, dalam artian sains masuk dalam institusi pendidikan mana pun melalui kolonialisme. Sebagaimana sering kita obrolin, pendidikan ‘berbau’ sains untuk mencetak bricoleur (dan bukan engineer) serta pendidikan kedokteran untuk mencetak mantri tukang suntik (dan bukan dokter) pertama kali diperkenalkan ke Hindia Belanda oleh Wong Londo dengan mendirikan Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini dikenal sebagai Tut Tek Dung atau ITB) dan School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA dan kini dikenal sebagai UI atau Universitas Indonesia).

Selain itu, hasil materialnya. Ini yang selalu membuat sains tampak memukau, karena hasilnya jelas dan bisa dimanfaatkan untuk memanipulasi alam agar bisa berguna buat manusia. Sedangkan filsafat? Lelucon yang paling terkenal mengatakan bahwa “Filsafat itu hanyalah daftar menu tanpa makanan dan minuman yang konkret.” Kemudian, metode sains itu terukur dan bisa dipelajari secara transparan. Agar lebih dramatis, kita bandingkan saja dengan ilmu perdukunan yang tersembunyi, dan yang ngelakoninnya pun belum tentu semua orang, itu pun belum tentu bakal berhasil. Terakhir, sains itu merupakan kepanjangan dari logika sehari-hari. Kalau kita sakit perut, terus datang ke dokter, mereka bakalan nanya: “Anda makan apa?”, sementara kalau kita datangnya ke dukun, mungkin dukun itu bakalan nanya: “Musuh kamu siapa?”; karena menurut itu dukun, Anda kayaknya kena santet.

Gimana menurut pak dosen Sains ?